
Dalam upaya mengkolaborasikan budaya dan kearifan lokal yang menggerakkan pemberdayaan masyarakat dan pariwisata, Pemkab Kulonprogo melakukan studi banding ke Lembur Pakuan Kabupaten Subang Jawa Barat, Jumat (22/5/2026).
Rombongan diterima perwakilan Pemprov Jawa Barat. Sedangkan rombongan dari Kulonprogo tidak hanya datang sebagai tamu, tetapi juga memeriahkan suasana dengan mempersembahkan sajian seni daerah yang dibawakan langsung tim kesenian Pewarta Budaya dari Paguyuban Wartawan Kulonprogo (PWK), yang semula mendapat pelatihan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan).
Dalam kesempatan ini, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kulonprogo dr Sri Budi Utami MKes yang membersamai rombongan, menyoroti pentingnya melihat langsung praktik baik penataan wilayah yang berpotensi direplikasi.
“Kami hadir dalam rangka belajar. Sebuah tempat sederhana, tapi dikelola baik sehingga jadi objek wisata (objek wisata) yang bisa menjaga kearifan lokal, untuk kemudian bisa diaplikasikan di Kulonprogo yang juga merupakan daerah dengan potensi wisata,” ungkap Sri Budi.
Dijelaskan Plt Camat Dawuan, Hasan Sahroni SSTP MM kawasan yang berada di Desa Sukasari ini sebenarnya bukan dirancang murni sebagai tempat pelesir, melainkan perwujudan dari filosofi tata ruang daerah. “Lembur Pakuan sendiri merupakan kediaman Gubernur Dedi Mulyadi. Di sini jadi spot wisata, tapi tujuan utamanya sebenarnya bukan itu. Melainkan mencontohkan atau role model sesuai konsep ‘lembur diurus kota ditata’,” papar Hasan.
Ia menambahkan bahwa keistimewaan tempat ini terletak pada sinergi antara pers dan masyarakat dalam merawat identitas.
“Konsepnya back to budaya kita. Jabar itu sama dengan Jogja, sama-sama istimewa. Istimewa di mana lemburnya diurus dan kotanya ditata. Untuk pariwisata merupakan bonusnya. Pelaksanaan Lembur Pakuan ini titik utamanya adalah rekan-rekan pers di era digitalisasi ini,” ucapnya.
Dijelaskan, mengapa orang tertarik ke sini karena bersih, ada hamparan sawah luas, ada jalan yang tembus sawah, ditambah keindahan sungai, lalu ada situ atau embung.
Kesadaran masyarakat untuk ikut partisipasi sangat tinggi. Sabtu-Minggu ada tutunggulan (menumbuk padi), yang tadinya nol, didatangkan pelatih, kemudian sekarang sudah bisa. Intinya tutunggulan itu merupakan kesenian menyambut tamu,” papar Hasan.
Daya tarik ini dijaga langsung oleh masyarakat setempat. Salah satunya Badega, sebuah pasukan penjaga sukarela yang berjumlah 40 orang. menceritakan bagaimana harmoni alam dan manusia dipertahankan.
Kepala Dinas Kominfo Kulonprogo Agung Kurniawan SIP MSi menyatakan Lembur Pakuan menjadi rujukan model nyata pengembangan desa berbasis budaya dan kemandirian masyarakat.
“Para peserta dapat mempelajari tata kelola informasi publik, pengemasan konten kreatif berbasis kearifan lokal, serta sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun citra daerah,” tuturnya.
Terhadap Lembur Pakuan, Agung mengapresiasi ekosistem kultural tersebut dan melihat kemiripannya dengan destinasi wisata unggulan lain di Indonesia.
Ini seperti di Bali, kearifan lokal dan budaya (diutamakan), yang kemudian bonusnya ada pariwisata dan itu nanti dampaknya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.


